Penyakit Diabetes Dapat Memburuk Jika Tidak Disiplin Minum Obat

Penyakit diabetes atau diabetes melitus adalah penyakit yang berhubungan dengan tingginya kadar gula dalam darah seseorang. Diabetes sendiri merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan akan tetapi dapat dikendalikan. Untuk mengendalikannya merupakan hal yang cukup rumit karena dibutuhkan perubahan gaya hidup termasuk didalamnya adalah kedisiplinan dalam mengonsumsi obat.

Tujuan dari pengobatan diabetes melitus tidaklah untuk menyembuhkan akan tetapi lebih pada menormalkan gula darah dan juga mencegah kerusakan organ tubuh disebabkan oleh gula darah yang tinggi. Gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada pembuluh darah di area mata, otak, tungkai dan ginjal.

Terdapat banyak alasan mengapa penyandang diabetes kurang disiplin dalam menjalani pengobatan contohnya adalah komunikasi yang tidak baik antara pasien dan dokter.

“Bisa jadi dokter tidak memberikan penjelasan hanya diberikan obat terutama dalam jumlah yang banyak. Hal kedua adalah pasien yang mendapatkan informasi yang salah yaitu kebanyakn mengonsumsi obat dapat menyebabkan kerusakan ginjal padahal sesungguhnya kerusakan ginjal disebabkan oleh penyakit diabetes itu sendiri bukan karena obat-obatan,” jelas dr. Benny Santosa Sp. PD-KEMD.
Penyakit Diabetes Dapat Memburuk Jika Tidak Disiplin Minum Obat
Menuru dr. Benny, hal yang menyebabkan seseorang menjadi enggan mengonsumsi obat karena obat yang digunakan untuk mengendalikan diabetes adalah obat yang harus dikonsumsi selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup sehingga banyak pasien yang takut jika mengonsumsi obat dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan penyakit lain.

“Diabetes adalah penyakit yang merusak organ tubuh seperti mata, kaki dan saraf. Tanpa konsumsi obat dengan rutin maka organ ini akan cepat rusak,” kata dokter dari RS Gading Pluit Jakarta tersebut.

Selain itu menurut Benny terdapat banyak pasien yang justru menyalahkan obat tersebut ketika kadar gula tidak turun dan meminta obat diganti. “Jarang ada yang menyalahkan gaya hidup yang memang belum diubah. Obat apa pun tanpa diikuti oleh perubahan gaya hidup yang lebih sehat tidak akan berpengaruh banyak dan memberikan efek yang maksimal,” lanjut dr. Benny.

Rendahnya kepatuhan konsumsi obat saat ini lebih banyak ditemukan pada pasien yang berusia muda dibandingkan dengan pasien pada usia lanjut. Ketidakpatuhan pasien dalam mengonsumsi obat yang telah diresepkan tersebut memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kondisi pasien.

Data menunjukkan bahwa rata-rata setengah pasien menghentikan pengobatan dalam waktu 12 bulan sejak memulai pengobatan. Hal ini juga ditambah dengan malasnya para pasien untuk berkonsultasi dengan dokter sekaligus memantau kadar gula dalam darah.

Ketidakpatuhan dalam hal berobat ini yang menjadi salah satu masalah yang membuat penyakit menjadi tidak terkontrol dan menyebabkan munculnya komplikasi.

“Diabetes yang tidak dikontrol akan membuat tubuh berada dalam kondisi hiperglikemi kronik. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi baik mikrovaskular seperti kehilangan penglihata, kebas karena saraf rusak, gangguan ginjal hingga makrovaskular seperti pengerasan pembuluh darah jantung,” kata dr Suria Nataatmadja, Medical Affairs Director MSD.

Berbagai Penyakit Yang Berbiaya Mahal Yang Dapat Disebabkan Oleh Rokok

Rokok ternyata menghasilkan 5 penyakit yang disebut menghabiskan sekitar 25 persen dana Jaminan Kesehatan Nasional. Pemerintah menyebutkan akun Sbobet bahwa penyakit-penyakit tersebut merupakan penyakit katastropik atau penyakit yang memakan biaya mahal dan beresiko tinggi sehingga membahayakan penderitanya.

Sesuai data dari Kementerian Kesehatan, lima penyakit tersebut berada pada posisi pertama adalah penyakit jantung dengan total biaya kalim Rp 6,9 triliun, kanker dengan biaya RP 1,8 triliun, stroke dengan biaya Rp 1,5 triliun, gagal ginjal dengan Rp 1,5 triliun dan yang terakhir adalah diabetes melitus dengan biaya Rp 1,2 triliun.
Berbagai Penyakit Yang Berbiaya Mahal Yang Dapat Disebabkan Oleh Rokok
Pada tahun 2016, total biaya pengobatan yang dikeluarkan oleh JKN-KIS untuk delapan penyakit katastropik adalah Rp 14,58 triliun atau 22 persen dari total biaya layanan JKN yang mencapai Rp 67 triliun. Khusus untuk jantung dan stroke, biaya yang diklaim telah mencapai 13 persen dari total biaya klaim JKN.

Pertanyaan terbesar adalah mengapa rokok dapat menyebabkan penyakit tersebut? Jawabannya adalah karena asap rokok mengandung banyak zat kimia yang sebagian merupakan racun. Begitu terhirup masuk, paru-paru langsung meneruskan racun asap rokok yang terhirup tersebut keseluruh tubuh melalui pembuluh darah.

Sebagian racun tersebut seperti karbon monoksida yang merupakan salah satu radikal bebas yang mengambil Sbobet Casino oksiden untuk sel darah merah. Radikal bebas ini juga membawa banyak masalah seperti penuaan kulit hingga kanker. Sementara itu, nikotin yang terdapat dalam asap tembakau juga membuat kelenjar adrenal memproduksi hormon yang meningkatkan tekananan darah dan denyut jantung. Meningkatnya hormon ini menyebabkan jantung bekerja lebih keras sehingga meningkatkan resiko terkena serangan jantung dan stroke.

Menurut dr. Agus Dwi Susanto yang spesialis paru-paru dari Rumah Sakit Persehabatan Jakarta, menyebutkan nikotin dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah sehingga pembuluh darah menjadi menyempit.

Konsekuensi dari penyempitan pembuluh darah ini adalah dapat memicu terjadi stroke jika penyumbatan terjadi di pembuluh darah otak, jantung koroner jika penyumbatan pada pembuluh koroner, impotensi jika terjadi pada kemaluan hingga janin pusat jiga terjadi pada tali pusat.